HERSCHEL MENGUNGKAP BAYI BINTANG DI BIMA SAKTI ( DAN BUKAN BAYI MATAHARI DI TATA SURYA)

Beberapa hari terakhir ini, langitselatan mendapat beberapa pertanyaan senada tentang Matahari.

Di antaranya adalah, apakah benar ada bayi Matahari ? benarkah bayi itu akan jadi kembaran Matahari di Tata Surya? benarkah Bumi akan punya dua Matahari? Dan yang terakhir adalah sebuah permintaan yang berbunyi demikian :

Bahas tentang baby star donk, soalnya pada simpang siur. Ada yang mengkaitkan akan adanya matahari ke dua di tata surya kita. (FB -pembaca LS).

Jawaban sederhananya sih Tidak ada bayi Matahari di Tata Surya dan Matahari tidak punya saudara kembar di Tata Surya.  Bumi juga tidak akan punya 2 buah Matahari.

Meluruskan Cerita Tentang Bayi Matahari
Yang menarik perhatian dari mana cerita ini muncul? Tampaknya ada kesalahan dalam memahami pemberitaan yang diterbitkan oleh salah satu situs berita di internet. Pada akhirnya berita yang awalnya baik-baik saja tersebar dengan informasi sbb:

Berita luar angkasa dari hasil tangkapan Teleskop Herschel cukup membuat perhatian lebih para peneliti di dunia, karena teleskop tersebut berhasil menangkap embrio bintang baru yang berada di tata surya kita. Bintang tersebut bisa kita sebut sebagai sang Matahari baru karena jika diperhatikan dan diteliti untuk ukuran jika sudah terbentuk nanti bisa saja besarnya akan melebihi matahari yang sudah ada dalam susunan tata surya bima sakti kita.(suaramedia / berita terkini Indonesia)

Berita tentang penemuan bayi matahari ini tidak sepenuhnya salah. Tapi mengandung kesalahan.  Yang dimaksut oleh berita sebenernya adalah, bayi bintang yang dilihat Teleskop Ruang Angkasa Herschel sedang lahir di galaksi Bima Sakti.  Dan memang merupakan bintang baru yang akan muncul di Bimasakti. Tapi bukan Matahari baru dalam artian Matahari yang menerangi Bumi. Kesalahan lainnya, bayi bintang tersebut tidak berada di Tata Surya.

Tampaknya ada kesalahan dalam memahami perbedaan  Tata Surya dan Galaksi Bima Sakti. Tata Surya(Solar System) adalah susunan benda-benda langit yang terdiri dari Matahari dan benda-benda langit lainnya yang terikat gaya gravitasi Matahari. benda-benda langit tersebut adalah planet, komet, asteroid, planet kerdil.

Sedangkan Galaksi adalah sebuah sistem yang terikat gaya gravitasi dan merupakan kumpulan bintang (termasuk di dalamnya bintang netron, lubang hitam, supernova), gas dan debu kosmik, medium antar bintang serta materi gelap.

Dan Galaksi Bima Sakti (Milky Way) adalah nama salah satu galaksi dimana di dalamnya berdiam juga Matahari sebagai salah satu bintangnya.

Selain itu kelahiran bintang mirip dengan manusia butuh waktu untuk bisa tumbuh. Dan skala waktu pertumbuhan bintang membutuhkan waktu jutaan – milyaran tahun.

Seperti yang sudah dikatakan berita tersebut tidak sepenuhnya salah. Yang terjadi hanyalah ada kesalahan dalam pemahaman. Nah, bagaimana berita yang sesungguhnya?

Bayi Bintang yang dilihat Herschel

Citra region HII RCW 120 yang diambil Herscel. Kredit : ESA, PACS & SPIRE Consortia, A. Zavagno (Laboratoire d’Astrophysique de Marseille)

Bulan Mei yang lalu, observatorium ruang angkasa Herschel milik ESA memotret citra baru yang memperlihatkan proto bintang di sekeliling 2 area terionisasi di galaksi kita yakni Galaksi Bima Sakti.  Yang dideteksi Herschel adalah bintang yang sedang berada pada tahap awal evolusinya.  Berita ini menjadi perhatian para peneliti karena informasi yang didapat bisa menjadi kunci penting untuk memahami pembentukan bintang masif yang masih misterius sampai saat ini.

Bayi bintang yang dilihat Herschel tersebut memiliki massa lebih dari 8 massa Matahari. Yang menjadikan kedua cikal bakal bintang ini langka adalah bintang seperti ini tidaklah umum dibanding bintang yang massanya lebih kecil.  Bintang bermassa besar memiliki kala hidup pendek,  karena bahan bakar nuklir yang ada di dalam dirinya akan terkonsumsi atau mengalami pembakaran dengan laju yang sangat cepat sebelum kemudian mengakhiri hidupnya dalam ledakan supernova.

Kelangkaan ini berarti akan sulit untuk bisa mengamati bintang raksasa langka tersebut, namun karakteristik benda-benda langka ini penting untuk pemahaman kimiawi dan dinamika evolusi galaksi.

Mekanisme Pembentuk Bintang Masif
Apa yang jadi mekanisme pemicu terbentuknya bintang masif memang masih terus diperdebatkan.  Dan untuk bisa mendeteksi obyek masif seperti itu di tahap awal evolusinya merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Bagaimana tidak, cikal bakal bintang tersebut masih berada di dalam kepompong debu yang tersembunyi dari pandangan.  Debu tersebut menyerap cahaya dan memancarkannya kembali pada panjang gelombang inframerah. Karena itu Herschel bisa melihat proses kelahiran bintang masif tersebut.

Salah satu teori menyebutkan bintang masif terbentuk pada area HII yang merupakan gelembung gas hidrogen panas yang sudah terionisasi oleh pancaran radiasi yang sangat kuat dari bintang masif generasi sebelumnya yang sudah terbentuk. Perbedaan temperatur antara bagian interior (sampai dengan 10 000 K) dan materi di sekitar (lebih dingin dari 100 K) menyebabkan gelembung tersebut mengembang sampai mencapai kecepatan supersonik. Gelembung yang mengembang tersebut menyapu lapisan materi netral disekitarnya yang kemudian terpecah-pecah menjadi benih (cikal bakal) berkerapatan tinggi dari generasi baru bintang bermassa besar.

Model “collect & collapse”, skenario pembentukan bintang generasi baru yang dipicu bintang masif generasi sebelumnya. Kredit : Deharveng & Zavagno, LAM, France

Data dari Herschel
Dalam pengamatannya, Herschel menargetkan area HII dalam hal ini RCW 120 dan N49 yang diperkirakan bisa memberikan bukti yang mendukung teori pembentukan bintang masif tadi.  Dan herschel memang berhasil melihat dan memotret bintang masif yang masih sangat muda di perbatasan kedua area. Kedua obyek yang baru saja memulai kehidupan tak kurang dari beberapa puluh ribu tahun baru memang belum pernah teramati sebelumnya. Inilah kali pertama bagi para astronom untuk melihat apa yang menjadi pemicu dari terbentuknya bintang masif.

Menurut Annie Zavagno dari Laboratoire d’Astrophysique de Marseille, “Kerapatan materi yang sangat tinggi di sekeliling gelembung dan gerak yang intens karena angin bintanglah yang bertanggung jawab atas proses terbentuknya bintang. Dan yang kemudian memicu munculnya populasi baru bintang yang lebih masif disekelilingnya.”

Data yang dibawa Herschel tak hanya membuat para astronom mengetahui keberadaan bintang muda yang sebelumnya tak terdeksi. Para astronom juga berhasil melakukan karakterisasi dari ciri-ciri fisik bayi bintang tersebut.

Protobintang dengan massa 8 – 10 massa Matahari tersebut memang jauh lebih masif dari Matahari dan dalam penglihatan Herschel, obyek ini dikelilingi oleh selubung besar yang massanya 2000 massa Matahari. Dan ia akan terus bertumbuh menjadi lebih masif sampai menjadi bintang yang seutuhnya. ?

Referensi : ESA

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Jangan Lupa Komentarnya

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s