Asal Mula Seni Suiseki

– Suiseki adalah seni batu indah alami. Seni yang berlanjut menjadi hobi unik ini berasal dari Asia Timur. ”Lebih tepatnya dari negeri Cina,” sebut M. Paiman, ketua Perkumpulan Penggemar Suiseki Indonesia (PPSI). Seni ini muncul kira-kira 1.500 tahun lalu, sekitar tahun 618 sampai 907. Waktu itu, masanya kerajaan Dinasti Tan dan Sung. ”Suiseki bersamaan lahirnya dengan seni Bonsai.”
Di negeri Tiongkok itu, suiseki lahir dengan sebutan Shang-Sek atau Yah-Sek. Artinya, batu yang dapat dinikmati keindahannya dalam jenis dan arti yang lebih luas. Kata Paiman, suiseki hanyalah salah satu dari sekian jenis batu indah alami dan tak terbatas hanya dari jenis batuan akibat kikisan air.

Konon, sekitar 3.000 tahun yang lalu dikisahkan bahwa ada seorang rakyat biasa negeri Song menemukan sepotong batu. Karena percaya itu sangat bernilai maka batu tersebut disimpan baik-baik. Tamu-tamu yang berkunjung mengamati batu tersebut dan mulai menyenanginya. Pada awal Dinasti Shang (20 abad S.M) kegemaran terhadap seni batu mulai memasyarakat dan populer
Nama suiseki berasal dari akar kata Sui-Sek dalam bahasa Cina, yang berarti batu air. Suiseki ini adalah sebutan versi Jepang. Disebut demikian karena terbentuk akibat erosi air di sungai. Di Korea diberi nama Su-Seok. Sebuah karya ciptaan alam yang sangat berharga ini dinilai bentuk seninya dari kemampuan yang dimilikinya untuk menampilkan keindahan jagad raya dalam mikrokosmos.
Menurut Soemarko, anggota PPSI lainnya, makna suseiki dalam bahasa Jepang adalah ”Batu Air”. Suiseki terdiri dari dua suku kata yaitu sui (air) dan seki (batu).Unsur air sangat berperan dalam pembentukan secara alamiah melalui proses alam, seperti kikisan air di sungai, derasnya hujan atau gelombang dilautan yang berlangsung selama ratusan, ribuan bahkan jutaan tahun.
Aliran seni suiseki mulai menyebar ke Korea dan Jepang sekitar tahun 1205. Kata Paiman, seni ini amat digemari kaum intelektual, kelas atas dan pelajar. Utamanya, para penggemar musik, lukisan, kaligrafi dan sastra.
Suiseki betul-betul telah dipengaruhi oleh filosofi Taoisme dan Zen. ”Suiseki bisa memberi ilham pada kita dengan berbagai macam persepsi,” tandas Paiman yang ikut memamerkan koleksi suisekinya dalam pameran yang sedang berlangsung di Pusat Kebudayaan Jepang ini. Ini mirip dengan tradisi lukisan Cina yang minimalis mampu menangkap intisari misteri dalam pemandangan pegunungan yang liar dan indah dalam goresan kuas yang sederhana. Tentu saja mampu menciptakan sugesti mengenai apa yang ada di dalamnya.
Seiring perkembangannya ke berbagai negara, suiseki hadir dengan beberapa variasi. Ini sesuai dengan letak geografis, budaya dan tradisi negara yang bersangkutan. ”Ambil contoh, suiseki yang berasal dari Cina. Batu-batunya cenderung vertikal dan berbentuk rumit. Asalnya dari sungai atau digali dari dalam tanah,” papar Paiman dengan semangat.
Batu-batu tadi berbentuk pemandangan yang terjal, dahsyat dan misterius. Umumnya diamati dari jarak yang relatif dekat. Lukisan tradisional Cina cenderung menyisakan ruangan-ruangan putih dan kosong bagaikan awan dan kabut di sela-sela panorama pegunungan.
Di Cina, terdapat suiseki raksasa yang membuat halaman sebelah dalam istana raja menjadi lebih anggun. Batu ini berasal dari Cina Utara. Untuk bisa ke tempat tadi, batu ini menghabiskan perjalanan selama enam tahun. Setelah sampai di tujuan, ternyata batu dihadang masalah. Tak bisa masuk ke pintu halaman sebelah dalam istana. Saking gede-nya minat untuk memiliki suiseki tadi, Kaisar menentang larangan Ibundanya. Dan dia merobohkan dinding untuk membawa suiseki itu ke dalam taman istana (Dinasti Ching).
Kecintaan pada suiseki diilhami oleh kegemaran mengumpulkan benda-benda alam tanpa merusak lingkungannya. Dari situ disajikan secara khusus sebagai miniatur alam untuk dinikmati, direnungi dan dikagumi keindahan serta keunikannya oleh pemilik dan masyarakat pecintanya.
Suiseki sering diterjemahkan sebagai batu panorama (viewing stone). Sebab punya keindahan yang abstrak atau simbolik. ”Buat para pecintanya merupakan pelepas dahaga dalam mencari pesona alam,” tukas Paiman.(Sinarharapan.com)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Jangan Lupa Komentarnya

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s