Asal Muasal Nama-Nama Kampung Di Jakarta

Nabang-Bayur

Sebuah lukisan Johannes Rach menggambarkan panorama Tanah Abang dimasa lalu. Tampaknya lukisan itu dibuat dari arah JL.Abdul Muis. Tanah Abang berupa bukit yang ditumbuhi pepohonan. Judul lukisan itu “Nabang”. Sampai dengan akhir abad ke-19 tempat itu bernama Nabang, dan dalam penulisan formal diberi artikel “De” sehingga menjadi De Nabang.

Hingga sekarang orang betawi menyebutnya Tenabang sebagai plesetan dari De Nabang, konsonan “D” berubah menjati “T”. Nabang adalah nama jenis pepohonan yang tumbuh di atas bukit itu. Nabang atau Tenabang berubah menjadi Tanah Abang setelah pembangunan stasiun KA tahun 1890. Perusahaan KA menganggap Tenabang berasal dari kata Tanah Abang. Lalu nama itu secara resmi digunakan di stasiun KA. Besar kemungkinan pengelola stasiun adalah orang jawa, ia mengira menyebut Tenabang itu salah. Lalu ia mencoba untuk “meluruskan”. Kemudian hari muncul para “ahli tafsir” yang mengatakan Tanah Abang itu tanah yang berwarna merah.

“Ahli tafsir” ini mungkin hendak menyeragamkan toponim Tenabang dengan Pal Merah, kawasan yang ada di dekatnya. Pal Merah jelas berasal dari dari batas jalan ( pal ) yang berwarna merah. Seperti halnya Pal Batu, batu yang dijadkan pal. Pal Putih, pal yang berwarna putih. Adapun Pal Meriam punya kaitannya dengan perang Inggris – Perancis di Meester Cornelis tahun 1813. Inggris membangun arsenal (batterij) meriam di daerah yang sekarang disebut Pal Meriam itu.

Kebayoran berasal dari Bayur, nama jenis jati yang dalam bahasa latin disebut Pterospermum Javanicum. Jenis jati ini banyak tumbuh di selatan kota dengan nama yang berbeda-beda. Ada yang menyebutnya ganjur, lantas ada Ciganjur. Ada yang menyebutnya wadang, atau pada, lantas ada Jati Padang.

Letnan Gambier

Gambir bukan berasal dari ramuan pelengkap makan sirih. Lapangan Gambir (sekarang Monas) berasal dari nama seorang letnan Zeni Belanda berdarah Perancis bernama Gambier. Pada awal tahun 1800-an Gambier ditugaskan Gubernur General Daendles untuk membuka belukar demi perluasan kota Batavia ke selatan. Maka sempatlah nama Letnan itu diabadikan sebagai nama lapangan yang berhasil digarapnya.

Di sebelah timur lapangan Gambir ada kampung Pejambon. Jambon adalah warna kemerahan. Disini pada abad ke-18 adalah tempat untuk mewarnai kain. Perusahaan terkenal disuatu tempat pada akhirnya sering menjadi nama jala, N.V. Goenoeng Saharie adalah perusahaan terkenal di Tanah Nyonya, makan nama jalan yang panjang itu menjadi Jl. Goenoeng Saharie, lalu menjadi Gunug Sari. N.V.Kondangdia ( terkenallah dia ) adalah perusahaan yang bergerak dibidang real estate di Menteng. Maka kampung dimana perusahaan itu berlokasi kemudian disebut Gondangdia. Pancoran di dekat Tebet bukan berasal dari pancuran, sebagaimana Pancoran di Kota. Pancoran adalah nama perusahaan angkutan yang mempunyai pool di kawasan itu.

Glodok sudah ada sejak abad ke-17. Glodok adalah gerobak untuk membawa bejana berisi air. Air itu diambil dari pancuran di Pancoran ( daerah kota ). Dengan glodok orang-orang menjajakan air bersih. Ada daerah yang di bawah kontrol Mayor, disebut Kemayoran. Ada yang di bawa kontrol demang disebut Pademangan. Ada kampung yang dinamakan Kampung Gusti. Gusti disini dapat berarti kerabat kraton. Tapi dapat juga berarti nama kampung ini mengacu pada kuburan seorang gusti yang dikeramatkan.

Solitude

Pada November 1813 pecah perang besar antara Inggris dan Perancis di Batavia. Tentara Inggris membangun arsenal meriam mulai dari Matraman sampai ke lapangan Jendral Urip sekarang. Tangsi-tangsi militer dibangun di Pal Meriam dan Tegalan. Inggris memperhitungkan tentara Perancis akan datang dari arah Gunung Sari, melintas Senen, lalu menuju Bogor dimana pusat pemerintahan berada. Tentara Perancis ternyata masuk dari Cilincing menuju Cakung, Pulo Gadung, Kampung Melayu, dan berbalik lagi menuju utara ke Matraman. Pertemburan terjadi menelan ribuan korban di Tegalan dan Pal Meriam menjadi kosong, sunyi dan sepi alias “solitude”. Maka muncul nama Gang Solitu. Jenazah yang tewas dibuang di rawa-rawa depan Jendral Urip. Maka muncul nama Rawa Bangke.

Berbeda dengan Inggris, Belanda membangun pertahanan setiap tempat di Batavia. Ada pos jaga, satu diantaranya yang terkenal dibangun di Molenvliet, yaitu gedung BTN Jl.Gajah Mada. Ketika pos jaga didirikan di daerah sekitae banyak monyet. Makan tempat itu disebut Jaga Monyet.

Seorang kapiten dari daerah timur bernama Pituju berjasa terhadap Belanda lalu diberi tanah di Jaga Monyet. Maka kemudian munjul nama Petojo. Petojo terbagi atas kampung-kampung kecil. Ada Petojo Binatu. Mungkin ada perusahaan wasserij terkenal disini. Ada Petojo Udik, ada Petojo Sabangan, maka encelek disini berarti “enclave” yaitu sub kawasan yang menempel.

Disebelah barat Petojo ada daerah Tomang. Tomang berarti dapur. Besar kemungkinan disini merupakan gudang logistik yang mendukung pos jaga

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Jangan Lupa Komentarnya

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s