Sejarah Industri Kamera Jepang

Teknologi fotografer ditemukan dan diperkenalkan 19 Agustus 1839 kira-kira 169 tahun yang lalu di Akademi Ilmu Pengetahuan Paris, Prancis. Penemu teknologi fotografi adalah John Jaques Mande Daguerreo, seorang pelukis pemandangan. Untuk memperingati penemuan itu banyak pameran, konferensi, atau simposium diadakan di seluruh dunia.


John Jaques Mande Daguerreo

Di Jepang, koleksi terpenting dan terbesar dari kamera-kamera Jepang yang bernilai sejarah dikumpulkan dan diorganisasikan sebagai JCII Camera Museum di Japan Camera and Optical Instrument Inspection and Testing Inspection and Testing Institute, atau lebih terkenal disebut JCII saja. Museum ini dibuka resmi 28 November 1989 dan menampilkan koleksinya untuk umum.
Hari berikutnya, 29 November 1989, suatu konferensi fotografi yang besar dibuka oleh Putri Ratu Galyani Valdana di Universitas Chulalongkorn, Bangkok. Konferensi ini dihadiri banyak pakar termashur di bidang fotografi.
Konferensi direncanakan dan dikelola oleh Profesor Sakda Siripant, seorang perintis ilmu fotografi dan pencetak seis grafik di Thailand, dia sudah banyak mendapat penghargaan dari institusi di Amerika dan Eropa untuk hasil karyanya. Tema konferensi adalah “ Evolusi dan Trend Fotografer “. Beberapa pembicara Jepang memberikan bahasan tentang fotografer dari segi : seni, kamera, material yang peka sampai pembuatan gambar secara elektronik. Diantara pembicara ini ada yang membahas masalah evolusi industri kamera Jepang.
Staf editorial Camerart telah mendapatkan naskah asli dan ijin cetak ulang dari Fakultas Ilmu Fotografi dan Departemen Teknologi Percetakan, Universitas Chulalongkorn. Naskah evolusi industri kamera Jepang ini telah diperluas staf editorial untuk disakjikan kepada pembaca, revisi dilakukan karena naskah asli tentang 85 tahun (pada saat itu) lalu dengan diperkenalkannya Kamera Boks Portable Cherry yang dibuat secara industri oleh Konishi Honten, kamera ini hampir merupakan tiruan persis dari kamera Inggris Little Nipper yang dibuat W.Butcher & Sons di London.
Beberapa kolektor kamera klasik mengatakan bahkan iklan yang dikeluarkan Konishi Honten merupakan tiruan iklan pada British Journal Almanac. Sebelum 1903, semua kamera yang dijual di Jepang diimpor – kebanyakan dari Eropa – termasuk buku petunjuk operasi dan periklanannya, kecuali beberapa kamera buatan tangan. Hal ini menunjukan bahwa orang yang berpengalaman di perdagangan seperti Konishi Honten pun tidak tahu, bagaimana membuat desain kamera orisinil maupun bagaimana melakukan promosi penjualan.


(iklan dari Konishi Honten)

Jika kita membicarakan kamera buatan tangan, maka era peniruan bertambah 60 tahun lagi kebelakang ke tahun 1843. Tentu saja tidak ada lagi bagian atau desain lengkap kamera buatan tangan ini yang masih dipelihara, tetapi sebuah dokumen mengatakan bahwa pada tahun 1843, Benkichi Ohno dari Kanazawa memproduksi sebuah kamera bertipe Daguerreo. Dokumen lain mengatakan bahwa, sebuah kamera tipe Daguerreo dan rupa-rupa assesorinya dicatat melalui sebuah gambar yang memuat ukuran dimensinya secara teliti oleh Shunojo Ueno, seorang pedagang dari Nagasaki di Tahun 1843 hanya 4 tahun setelah pengumuman penemuan di Akademi Ilmu Pengetahuan Prancis.


(Daguerreo Original Camera)

Bagi bangsa yang mencoba memasuki kultur baru dimana mereka tidak berpengalaman sebelumnya, dan waktu yang dipunyai untuk belajar hanya sedikit kika tidak mereka tidak ingin dikuasai negara-negara industri maju (Barat), maka “peniruan” adalah jalan tercepat dan mungkin satu-satunya untuk mengejar ketertinggalan.

Masa Peniruan (The Age of Copying) Merentang sampai 1960.
Bangsa Jepang terkenal sebagai peniru selama sejarahnya yang panjang dalam usaha mengembangkan diri menjadi bangsa maju sejak Restorasi Meiji Tahun 1868. Dalam keterburuan untuk menguasai kultur modern Barat dan menjadi raksasa militer dunia, banyak industri yang mendirikan di awal proses modernisasi dikelola oleh pemerintah atau paling tidak berafiliasi dengan beberapa departemen pemerintah. Tidak terkecuali dengan industri optik. Sebelum Perang Dunia II kebanyakan instrumen optik dibuat sebagai senjata termasuk binokuler dan kamera. Fenomena ini tidak jauh berbeda dengan negara-negara Eropa Timur yang membuat berbagai tipe Leica imitasi sampai akhir Perang Dunia II.
Di bawah tekanan politik-ekonomi yang meluap-luap, peniruan tidak lengkap dianggap tingkah laku yang tidak dapat diterima, tetapi diakui sebagai cara paling cepat untuk mempelajari sesuatu. Dalam bidang pendidikan, pengertian tingkah laku peniruan diartikan sebagai prosedur yang tepat untuk belajar. Persoalan yang kita bicarakan pada artikel ini bukanlah hal ke-absahan alasan peniruan, tetapi bagaimana dan berapa lama peniruan dilakukan di industri kamera Jepang.
Kamera tipe boks portable adalah tipe pertama kamera yang ditiru dan dijual di Jepang, kemudian diikuti berbagai jenis kamera tangan. Kebanyakan kamera aslinya buatan Eropa dan imitasi Jepang-nya dibuat oleh Konishi Honten. Mekanik shutter belum dapat di buat oleh industri kamera Jepang saat itu dan kebanyakan diimpor dari Eropa.

Memasuki era 1920-an, kamera folding (lipat) pertama yang memakai film roll muncul. Kamera-kamera itu adalah Pearl No.2 (1923) dan Pearlette (1925) dari Konishi Honten. Yang menarik adalah kenyataan bahwa Pearlette meniru kamera buatan Eropa Piccolette produksi Contessa-Nettel-Werke German. Mengingat unit shutter diimpor dari Eropa, meniru suatu produk Eropa adalah langkah yang wajar, tapi dalam kasus Pearlette ini sebenarnya kamera asli yang ditiru adalah Vest Pocket Kodak dari Eastman Kodak yang dibuat pertama kali tahun 1912. Memang bangsa Jepang sangat terampil dalam meniru produk lain. Tetapi dalam industri kamera, peniruan telah menjadi sesuatu yang biasa.


(Vest Kodak Pocket Camera 1912)


(Pearl No.2 1923)


(pearlette 1925)


(piccolette)

ati-ati liatnya..jangan sampe kebalik..hohoohoh..cuz hampir sama semua kameranya…!!

Pearlette menjadi sangat populer dikalangan fotografer amatir yang jumlahnya mulai meningkat. Vest Pocket Kodak yang asli juga sangat populer. Cara pencarian fokus yang mudah (soft focus images) yang dikreasi Kodak melalui tudung lensanya (lens hood) yang dapat digeser sangat terkenal waktu itu. Berbicara tentang peniruan, tiruan yang paling beragam terjadi pada Leica. Tiruan Leica tidak hanya dibuat di Jepang tapi hampir di seluruh negara Barat termasuk Amerika dan Russia. Tiruan-tiruan yang terkenal dari Jepang adalah Nicca, Leotax, Chiyotax, Tanack, Canon, Minolta dan yang lain-lain. Kecuali model-model yang dibuat Seiki Kogaku (Canon) dan Chiyoda Kogaku Seiko (Minolta), semua model adalah tiruan-tiruan persis dari produk asli yang dibuat pabrik kamera Jerman. Tidak semua produsen peniru Leica puas dengan kerja peniruannya. Banyak peniru mencoba untuk memodifikasi atau memperbaiki kamera asli. Akan tetapi, keterbatasan teknologi dan mentalitas konsumen yang tidak siap menerima kamera yang berbeda dengan Leica asli sering menghalangi kesuksesan usaha mereka. Sering kali perbaikan dan modifikasi ditolak oleh konsumen domestik maupun luar negeri hanya karena kamera itu tidak mirip model Leica yang asli. Para pemakai kamera Jepang harus menunggu perbaikan-perbaikan yang sebenarnya atau ide-ide inovatif sampai beberapa tahun setelah Perang Dunia II.


(Nica Camera)

(Leotax Camera)

(Chiyotax Camera)

(Tanack Camera)

Bagaimana Periode Evolusi Beralih dari Satu Masa ke Masa Lainnya?
Industri kamera Jepang memulai sejarahnya dengan kamera imitasi, Kamera Boks Portable Cherry di Tahun 1903 seperti disebutkan terdahulu dan diikuti masa pengembangan (age of development) mulai Tahun 1960. Banyak sejarahwan kamera mungkin mendebat bahwa masa pengembangan industri kamera Jepang telah mulai Tahun 1954, ketika kamera Asahiflex IIB (kamera instant-return mirror incorporated Jepang pertama) diperkenalkan, Japan Camera Industry Association (JCIA) dibentuk dan pada tahun yang sama juga didirikan Japan Camera Inspection Institute. Walaupun teori ini diterima secara luas, saya lebih menyukai memperpanjang masa peniruan (age of copying) sampai Tahun 1960. Sebab sampai saat itu konsumen luar negeri menganggap kamera Jepang sebagai versi modifikasi kamera asli Jerman. Kamera Jepang di Amerika sering dijuluki “Leica orang miskin” atau “Rollei orang miskin” termasuk yang paling terkenal dan berkualitas seperti Nikon.


(Asahiflex_IIb_Model_I)

Masa pengembangan mulai Tahun 1960. Pada Tahun itu, sejumlah inovasi yang paling berpengaruh diwujudkan dan produk dengan mekanik inovatif dipasarkan. Kamera kontrol exposure otomatis yang pertama, Olympus Auto Eye diperkenalkan dan vertically-running-metal-bladed shutter (shutter bilah-logam pergerakan vertikal) dipasang pada kamera singel lens reflex (SLR) Konika F dan Konika FS diperkenalkan.


(Olympus Auto Eye Camera)

(Konica FS)

Nikon F yang akhirnya menegakkan kepercayaan yang tak tergoyahkan di seluruh dunia terhadap kamera Jepang diperkenalkan setahun sebelumnya. Dan kamera kontrol eksposur otomatis yang paling sukses, Canonet diluncurkan pada Tahun 1961.


(Canonet)

(Nikon F)

Karena begitu banyak inovasi diluncurkan oleh banyak produsen kamera dalam waktu hanya beberapa Tahun di sekitar Tahun 1990, beberapa ahli kamera menganggap itulah mulainnya masa inovasi (age of innovation). Tetapi kemajuan terpenting dari industri kamera Jepang sebenarnya belum datang.
Teknologi elektronik – jika tanpa teknologi ini kamera Jepang mungkin tidak akan eksis seperti sekarang- memulai cikal bakalnya pada Tahun 1960-an. Para insinyur yang terlibat dalam pengembangan kontrol elektronik mekanik kamera sangat meyadari kamera macam apa yang akan datang dan sejauh mana tujuan pengembangan harus dicapai. Namun, pemakai kamera di seluruh dunia harus menunggu sampai pertengahan 1970-an untuk dapat menikmati kamera hasil pengembangan ini. Yang pertama dikeluarkan adalah Canon AE-1 Tahun 1976 dan semua kamera dengan kemampuan kontrol otomatis menyusul. Periode ini benar-benar masa inovasi.


(CanonAE1)

Akhir periode yang hebat ini ditutup kemunculan kamera Minolta 7000, sebuah kamera SLR fokus otomatis. Titik ini dianggap akhir masa inovasi.
Sebelum diperkenalkannya kamera SLR otomatis penuh dari Minolta, pembuat gambar dengan sistem baru, Mavica diperkenalkan bukan oleh produsen kamera tapi oleh perusahaan elektronik yang biasa memproduksi peralatan audio, Sony. Sistem perekaman gambar baru ini tidak menggunakan cara tradisional yang memakai material silver-halide untuk menyimpan informasi pembentukan gambar. Pemakaian sistem baru ini mengejutkan seluruh industri fotografi di dunia. Beberapa bentuk sistem perekaman gambar elektronik magnetik dalam bidang fotografi still telah dinanti-nantikan sejak kedatangan video kaset rekorder (VCR). Tapi dunia tidak begitu siap menerima kenyataan bahwa sistem baru itu diperkenalkan oleh industri non-fotografi.


(Minolta 7000)

(Sony Mavica)

Masa perintisan (age of pioneering) telah dimulai. Dimana cara berfikir yang dikembangkan selama sejarah panjang fotografi silver-halide tidak dapat digunakan lagi. Tak seorang pun punya ide apa yang harus dituju. Otomatisasi kontrol elektronik pada sistem perekaman gambar secara elektronik lebih mudah dibanding penggunaan film silver-halide. Apakah karakteristik terpenting sistem baru ini?Kualitas reproduksi?Reproduksi gambar tercepat?Komunikasi?Atau, proses perekaman gambar dan analisa melalui komputer?
Sekarang industri kamera Jepang berada pada posisi dimana mereka tidak punya petunjuk atau peta dalam penjelajahannya. Mereka harus menciptakan tujuan dan peta untuk mereka sendiri dan bagi orang lain agar dapat mengikuti. Cara terbaik untuk memprediksi masa darang dan merancang suatu tujuan bagi kerja pengembangan yang belum ada petunjuknya, adalah dengan menyelami masa lalu industri itu sendiri. Dari sejarah, industri kamera mungkin menemukan beberapa petunjuk untuk masa datang. Mereka mungkin telah menemukan satu atau dua petunjuk, walaupun tidak diungkapkan dengan panjang lebar.

Hohohoho..
Pasti anda para Ngobrolers tidak menduga fakta tersebut-kan?tapi begitulah faktanya. Mungkin anda juga berfikir Jepang adalah negara penuh dengan inovasi yang tidak akan meniru produksi dari negeri lain, tapi inilah nyatanya. Bahkan sekarang kamera menjadi sangat maju dalam hal teknologi-nya, dari SLR menjadi DSLR ataupun Medium Format seperti Phase One (meski bukan dari Jepang) yang mampu menghasilkan gambar dengan pixel yg besar (4000×6000-an pixel..melebihi kamera DSLR).
So, kita pasti akan menantikan gebrakan apalagi yang akan dilakukan oleh Nikon, Canon, Sony, Minolta ataupun yang lain dalam hal memajukan teknologi dalam dunia fotografi.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Jangan Lupa Komentarnya

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s