Pemberontak Kuasai Dua Kota Minyak Libya

VIVAnews – Pasukan pemberontak anti rezim Muammar Khadafi berhasil menguasai dua kota, yang dikenal sebagai penghasil utama minyak mentah di Libya. Namun, ekspor minyak mentah, yang menjadi sumber pendapatan andalan bagi Libya, perlu waktu beberapa bulan untuk pulih.

Menurut kantor berita Associated Press, pemberontak telah menguasai Ras Lanouf dan Brega, Minggu 27 Maret 2011 waktu setempat. Dua kota di pesisir barat itu dikenal sebagai penghasil utama minyak mentah Libya, yang rutin memproduksi 1,5 juta barel setiap hari sebelum muncul pergolakan pada 15 Februari lalu.

Menteri Pertahanan Inggris, Liam Fox, menyambut baik keberhasilan pemberontak itu. “Saat bergerak terus di sepanjang pesisir, para pemberontak akan mampu mengendalikan titik-titik pengiriman minyak Libya,” kata Fox seperti dikutip stasiun berita BBC.

Keberhasilan pemberontak menguasai Ras Lanouf dan Brega tak lepas dari peran jet-jet tempur Koalisi Internasional pimpinan Amerika Serikat (AS) dan NATO. Sambil menerapkan zona larangan terbang, pasukan koalisi juga membombardir tank dan artileri pasukan Khadafi, yang sebelumnya gencar menembaki pemberontak. Pasukan pemberontak pun mendapat angin dari misi koalisi itu.

“Tidak ada perlawanan, pasukan Khadafi kabur begitu saja,” kata Suleiman Ibrahim, seorang anggota pemberontak. “Ini tidak akan mungkin terjadi tanpa NATO. Mereka memberi dukungan besar kepada kami,” ujar pria berusia 31 tahun itu.

Namun, kendati sudah menguasai dua kota penghasil utama minyak mentah, produksi “emas hitam” di Libya belum bisa segera normal kembali. Masalahnya, banyak ladang minyak telah ditinggali para pekerja asing, yang telah menyelamatkan diri dari krisis di negara Afrika utara itu.

Para pejabat pemberontak pekan lalu menyatakan bahwa mereka masih sanggup memproduksi minyak mentah sekitar seratus ribu barel per hari dari dua ladang utama. Namun, tidak jelas apakah level itu dapat dipertahankan mengingat sudah banyak pekerja yang menyelamatkan diri.

Badan Energi Internasional (IEA), yang berbasis di Paris, yakin bahwa produksi minyak di Libya sudah sangat sedikit dan ekspor pun terhenti. IEA yakin bahwa perlu berbulan-bulan untuk Libya agar kembali bisa memasok minyak mentah ke pasar global secara normal.

Sementara itu, Qatar berencana membantu pihak pemberontak untuk menstabilkan kembali produksi dan pasokan minyak. Qatar saat ini dikenal sebagai satu-satunya negara Arab yang telah aktif berpartisipasi dalam misi pasukan Koalisi atas Libya

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Jangan Lupa Komentarnya

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s